Saya salut dengan Gerakan SPK ini. Gerakan Literasi yang dibangun dari spirit menulis Ustad Ainun Naim. Seakan tak pernah padam! Ketika saya masih kuliyah semester 7 sudah mengikuti jejak spirit menulis beliau. Saya masih ingat kala itu buku yang berjudul “The Power Of Writng” telah menyambar tanganku untuk mengangkat pena setiap hari.

Namun, ditengah-tengah perjalanan spirit menurun karena terbentur dengan beberapa aktivitas lainnya. Akhirnya lambat laun, menulis menjadi bukan satu-satunya prioritasku lagi.

Tapi ntah mengapa, belakangan ini dimunculkan kembali spirit menulis itu oleh Beliau. Spiritnya masih sama, tapi kekuatan kanuragannya sangat berbeda. Seakan membakar sendi-sendi jemari tangan ini untuk kembali mengangkat pena yang sempat patah itu.

Seakan slogan baruku “hati boleh saja patah, asal jangan penaku”.  Tak tahu mengapa saat saya membaca tulisan-tulisan dari sahabat-sahabat SPK, semakin membuat berapi-api saja  semangat menulisku ini. Tuhan, setan apa yang merasukiku?

Sungguh ini gerakan yang luar biasa, aktivitas menarik tentang upaya meningkatkan produktivitas menulis di kalangan dosen, mahasiswa dan juga mantan-mantan mahasiswa seperti saya ini yang gak punya status apa-apa saja ikut terbakar, tersulut dan berapi-api menjadi ingin menulis terus. Tuhan, apakah ini hanya ego?

Saya ingin jawaban dalam diriku sendiri tentang kobaran yang berapi-api ini. Apakah hanya semangat musiman, ataukah memang benar-benar ingin berkarya melalui tulisan-tulisan ini.

Keyakinan saya mengatakan bahwa melalui SPK ini adalah sebuah terobosan yang setiap orang bisa saja mempunyai peluang yang sama untuk belajar di dalamnya. belajar apa? Berkomitmen, belajar menulis dan belajar apapun itu tentang literasi.

Hari ini saya coba meneliti, meraba, mengelus perasaan hati lebih dalam lagi tentang rasa penasaranku ingin kembali produktif menulis.

Ini saya lakukan dengan pendekatan partisipatif, dengan satu pertanyaan yang mendalam yakni apakah semangat menulisku ini musiman? Seperti halnya cintanya Mantan kepadaku dulu (yang layu diterpa badai Fortuner), ataukah memang benar-benar serius berkarya.

Saya akan riset kembali itu, karena saya tak ingin mengulang lagi kesalahan masalalu seperti cintanya (rapuh tak berarti).

Dengan menggunakan pendekatan ini, saya harus terlibat langsung, yakni rutin dan berkomitmen untuk menulis terus meskipun terpaksa.

Akhirnya saya harus menyudahi catatan saya dengan tetap mencari alasan saya kembali menulis. Dengan slogan “hati boleh saja patah, asal jangan penaku”.